Paling Ramai

Jumat, 20 September 2019

Memoar Masa SMA

Langit masih biru, ketika wajahwajah mulai mendung
luh luruh tepat saat tangantangan berjabat
erat, lebih erat dari perjumpaan pertama
tiga tahun silam 
orangorang lain telanjur menjadi karib
menjadi sesisih nyawa di bangku, di kantin
di kelompok belajar, di ruang diskusi bersidebat

Kacakaca berdebu diterpa cahaya
penanda penghuni kelaskelas tengah asyik masyuk
bercengkerama dengan libur panjang
kali pertama kuinjakkan tapak di selasar sekolah
debu, dedaun kering dan angin berkejaran
berebut cepat sampai di halaman
tukang kebun, mungkin sedang sibuk berkencan

Di seberang jalan, di trotoar yang tepat di bawahnya terdapat selokan
ada pohon bambu kuning bergerombol
selaik kami yang suka berkumpul gumul tawa di bawah rindang kuningnya
sepulang sekolah: sebelum benarbenar pulang
berbagi sisa bekal masakan emak
takut takut kena bentak bila tak tandas

Perihal bambu, beberapa kali pernah terjadi atraksi 
bambu terbang: oleh guru bahasa
masa puber itu nyata
kacakaca di laci meja saksinya
ada saja yang sibuk bersolek
di jamjam kurang strategis
gadis yang tibatiba menangis karena lupa melukis alis
atau, perjaka yang mumet karena kehabisan pomade
sungguh drama paling geli sepanjang ingatan

Dan akhirnya, ini hari kelulusan
di mana kebadungan mesti ditanggalkan
kebandel-usilan harus diinsafi
tangantangan dikecup
maafmaaf diuyup
mendung didedah
hujan tangis tumpah ruah
orang tua, pun rumah putih abu
waktunya menjelma kenangan paling kalbu
di hatiku, hati kami, dan hati mereka

Madiun, 21/09/2019 - Ika marwah







Tidak ada komentar:

Posting Komentar