Burung-burung yang terbang-hinggap di atas rumah. Suaranya riuh rendah. Seperti kata-kata dari kepalamu. Kata-kata yang kau biarkan beterbangan mencari maknanya sendiri. Seperti murai di atas rumahku.
Kita pernah berbincang tentang benda-benda, ruang-tempat, nama-nama, juga cinta yang katamu hanya ada setelah tidur bersama. Aku setuju. Orang-orang mendebat di berbagai tempat. Aku tertawa, kau menang. Menang dari keroyokan pikiran orang-orang yang tak melihat sinar di kepalamu itu.
Entah bagaimana aku merasa beruntung dapat menangkap makna yang beterbangan dari kepalamu yang terbuka. Hingga kediamanku menjelma riuh tanya-tanya seperti murai, katamu.
Kini, murai ini terduduk di atas lincak yang koyak. Bercuap tanpa ada yang bisa kutangkap lagi dari kepala terbuka milikmu. Kau pergi membawa kata-kata, meninggalkan makna-makna. Tentang membaca dan membuka kepala, juga kesunyian yang tak akan pernah bisa kutanyai. Sebab katamu, sepi bukanlah sunyi. Sunyi lebih dari sepi, dan kau .... Kau selalu membuktikan kata-katamu
IM, Maret 2018
#Eyang.
