Paling Ramai

Rabu, 25 September 2019

Murai dan Sebuah Kenangan


Burung-burung yang terbang-hinggap di atas rumah. Suaranya riuh rendah. Seperti kata-kata dari kepalamu. Kata-kata yang kau biarkan beterbangan mencari maknanya sendiri. Seperti murai di atas rumahku.

Kita pernah berbincang tentang benda-benda, ruang-tempat, nama-nama, juga cinta yang katamu hanya ada setelah tidur bersama. Aku setuju. Orang-orang mendebat di berbagai tempat. Aku tertawa, kau menang. Menang dari keroyokan pikiran orang-orang yang tak melihat sinar di kepalamu itu.

Entah bagaimana aku merasa beruntung dapat menangkap makna yang beterbangan dari kepalamu yang terbuka. Hingga kediamanku menjelma riuh tanya-tanya seperti murai, katamu.

Kini, murai ini terduduk di atas lincak yang koyak. Bercuap tanpa ada yang bisa kutangkap lagi dari kepala terbuka milikmu. Kau pergi membawa kata-kata, meninggalkan makna-makna. Tentang membaca dan membuka kepala, juga kesunyian yang tak akan pernah bisa kutanyai. Sebab katamu, sepi bukanlah sunyi. Sunyi lebih dari sepi, dan kau .... Kau selalu membuktikan kata-katamu 

IM, Maret 2018
#Eyang.

Rahasia Tangisan


Satu hari aku berpikir perihal tangis. Air mata yang mengalir sebab kesedihan yang terlalu, kebahagiaan yang tak terkendali, semacam dramatisir perasaan. Hal-hal itu barangkali menjadi pemicu tangisan.

Tak jarang kudengar seseorang berkata, "Menangislah! Agar kau lega." Benarkah tangis menghasilkan kelegaan?

Aku mulai mengamati, ketika temanku menangis sebab sakit hati. Selain airmata yang keluar dari matanya, rupa-rupa cercaan dan harapan akan kekasihnya keluar begitu saja dari bibir tipis itu.
Kulihat juga adikku yang tengah menangis, selain lelehan airmata ia tak henti menyebutkan mainan yang diinginkan dan belum didapatkannya. Ibu diam-diam terharu memandangi nilai rapor sisipan si Nomor Empat yang nyaris sempurna, airmata meleleh lagi. Aku pun akhirnya mengamati tangisku sendiri, ketika sebak memenuhi dada sebab pertengkaran dengan Kartika, sahabatku, kemarin. Sukses membuatku sesenggukan. Di antara tetesan airmata, hatiku terus saja merapal kata-kata mengeluarkan segala unek-unek, meski tak terdengar telinga orang lain.

Nyatalah sudah, bukan tangisan yang menyembulkan kelegaan, melainkan keluarnya segala pikiran-pikiran dan emosi dari dalam diri, entah sengaja entah tidak. Sebab kelelahan itu pasti ada. Sedang airmata, dengan lihai memainkan perannya membersihkan lensa penglihatan selagi kita sibuk menguras segala emosi dari dalam diri. Walhasil, kelebihan emosi dan amarah terkeluarkan dan mata kembali bersih bening.
Sebening matamu, Na.

IM, 11/15

Kisah Sepasang kekasih


Matahari pagi ini tak bersinar cerah. Awan berarak kian cepat menutupi birunya langit. Sepasang sejoli nampak lusuh. Sebuah tas dari karung di genggaman sang lelaki, kusebut dia Pak Tua. Selembar selendang kumal disandang istrinya. Keduanya terduduk di taman kota yang masih lengang. Raut mereka nampak lesu. Mata nan kuyu memandangi hijau rerumputan. Menerawang seakan menembus hamparan hijau. Sebentar berbinar, sejurus kemudian berkaca. Mungkin mereka tengah mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hati yang entah.

Berpeluh lesu
Mengulum harapan
Tak kesampaian

Sebungkus nasi keluar dari tas karung, kemudian dinikmati berdua. Sepasang sejoli nampak mengulum senyum. Senyum yang menjelma bahasa syukur, bercampur haru.
“Hari ini akhirnya kita bisa makan ya, Pak,” kata istrinya. Pak Tua hanya tersenyum, sambil memasukkan nasi ke mulut dengan suapan kecil-kecil.

Sesuap berkah
Hadirkan buncah hati
Berucap syukur

IM, 04/12/14

Senin, 23 September 2019

Mata

tak ada yang mampu mematamataiku
selain matamu
padanya kau simpan kesumat curiga
bagi kerlipkedipku yang menggoda
matamu adalah tatap lembut ayah
tempat jiwaku berisyarat manja
bening cintaku

Madiun, 23/09/2019 - Ika Marwah

Jumat, 20 September 2019

Memoar Masa SMA

Langit masih biru, ketika wajahwajah mulai mendung
luh luruh tepat saat tangantangan berjabat
erat, lebih erat dari perjumpaan pertama
tiga tahun silam 
orangorang lain telanjur menjadi karib
menjadi sesisih nyawa di bangku, di kantin
di kelompok belajar, di ruang diskusi bersidebat

Kacakaca berdebu diterpa cahaya
penanda penghuni kelaskelas tengah asyik masyuk
bercengkerama dengan libur panjang
kali pertama kuinjakkan tapak di selasar sekolah
debu, dedaun kering dan angin berkejaran
berebut cepat sampai di halaman
tukang kebun, mungkin sedang sibuk berkencan

Di seberang jalan, di trotoar yang tepat di bawahnya terdapat selokan
ada pohon bambu kuning bergerombol
selaik kami yang suka berkumpul gumul tawa di bawah rindang kuningnya
sepulang sekolah: sebelum benarbenar pulang
berbagi sisa bekal masakan emak
takut takut kena bentak bila tak tandas

Perihal bambu, beberapa kali pernah terjadi atraksi 
bambu terbang: oleh guru bahasa
masa puber itu nyata
kacakaca di laci meja saksinya
ada saja yang sibuk bersolek
di jamjam kurang strategis
gadis yang tibatiba menangis karena lupa melukis alis
atau, perjaka yang mumet karena kehabisan pomade
sungguh drama paling geli sepanjang ingatan

Dan akhirnya, ini hari kelulusan
di mana kebadungan mesti ditanggalkan
kebandel-usilan harus diinsafi
tangantangan dikecup
maafmaaf diuyup
mendung didedah
hujan tangis tumpah ruah
orang tua, pun rumah putih abu
waktunya menjelma kenangan paling kalbu
di hatiku, hati kami, dan hati mereka

Madiun, 21/09/2019 - Ika marwah







Rabu, 18 September 2019

Air Mata Diran

oleh: Ika Marwah

Dia Diran bukan Dilan
Mata beningnya berkaca-kaca
Luh membentuk sungai di gembil pipi
Bukan lantaran cinta monyet
Tangisnya pecah
Sebab rindu tak mungkin lagi didedah
Kecuali di depan pusara gurunya: Syamsul Hadi

Madiun, 18/09/2019

Minggu, 15 September 2019

Warna

Apa pendapatmu jika warna-warna kemudian saling bergradasi?
Kau hendak menjadi warna apa?
Kalau aku, akan memilih menjadi warna-warna cerah, yang tercerahkan dan mencerahkan.