Satu hari aku berpikir perihal tangis. Air mata yang mengalir sebab kesedihan yang terlalu, kebahagiaan yang tak terkendali, semacam dramatisir perasaan. Hal-hal itu barangkali menjadi pemicu tangisan.
Tak jarang kudengar seseorang berkata, "Menangislah! Agar kau lega." Benarkah tangis menghasilkan kelegaan?
Aku mulai mengamati, ketika temanku menangis sebab sakit hati. Selain airmata yang keluar dari matanya, rupa-rupa cercaan dan harapan akan kekasihnya keluar begitu saja dari bibir tipis itu.
Kulihat juga adikku yang tengah menangis, selain lelehan airmata ia tak henti menyebutkan mainan yang diinginkan dan belum didapatkannya. Ibu diam-diam terharu memandangi nilai rapor sisipan si Nomor Empat yang nyaris sempurna, airmata meleleh lagi. Aku pun akhirnya mengamati tangisku sendiri, ketika sebak memenuhi dada sebab pertengkaran dengan Kartika, sahabatku, kemarin. Sukses membuatku sesenggukan. Di antara tetesan airmata, hatiku terus saja merapal kata-kata mengeluarkan segala unek-unek, meski tak terdengar telinga orang lain.
Nyatalah sudah, bukan tangisan yang menyembulkan kelegaan, melainkan keluarnya segala pikiran-pikiran dan emosi dari dalam diri, entah sengaja entah tidak. Sebab kelelahan itu pasti ada. Sedang airmata, dengan lihai memainkan perannya membersihkan lensa penglihatan selagi kita sibuk menguras segala emosi dari dalam diri. Walhasil, kelebihan emosi dan amarah terkeluarkan dan mata kembali bersih bening.
Sebening matamu, Na.
IM, 11/15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar