Ketika tulisan ini saya luncurkan, saya sedang mengalami guncangan. Guncangan yang tidak terlalu besar namun cukup menganggu dan mengacaukan pikiran saya.
Nama Marliana berputar-putar di kepala saya, janji saya untuk membuat pengantar buku Triastuti sungguh membuat saya tidak aman dan nyaman.
Apakah judul antologi ini? Biarlah Marliana Triastuti dan Tuhan yang tahu.
Saya tidak membaca detail, namun membaca sekilas dan mencoba menarik benang merah yang bisa saya cuap-cuapkan di sini.
Tak ada detail. Begitu umum. Marliana ingin menjadi segalanya. Apakah itu artinya Marliana telah menjadi Tuhan bagi kata-katanya?
Mula-mula buku ini diwarnai merah jambu, ada cinta yang menyembul di sana-sini, kemudian jika dibaca sampai khatam akan banyak sekali yang ingin Marliana katakan dalam kumpulan anak rohaninya ini.
Cinta, kasih tak sampai, doa dan harapan, cemburu, Tuhan, kritik sosial, tubuh yang dijual, perjalanan, tradisi, pohon-pohon, lanskap alam, aduhai dari Sabang sampai Merauke, ujung ke ujung, segala ada di sini.
Lantas baguskan buku puisi didedahkan segala macam ras di dalamnya, segala macam sudut dibidik, segala nuansa dikuar? Tak ada yang salah, namun tidak akan menemui titik fokus, yang menyebabkan kehilangan titik terang.
Ah, kenapa tidak ada yang bagus saya katakan di pengantar ini? Segalanya bagus, selama itu kebenaran, namun kadang kebohongan justru diburu dan dinikmati.
..
Marliana Tiastuti berusaha berani dalam karya-karyanya, berusaha jujur dengan apa yang dia lihat dan rasa. Namun Triastuti harus lebih gigih lagi menggali potensi agar tidak terjebak semata di lorong keumuman.
Semangat belajar yang membara, menggebu, tercetak dalam kumpulan puisi ini, dan itu bagus serta perlu.
Ibarat peluru yang sembarang lesat, Marliana mesti belajar membidik dan fokus.
..
Dulu, ketika puisi saya tak lebih timbunan karya, saya didera khawatir yang berlebihan, ragu yang membelenggu, kesadaran diri yang kelewat sadar.
Saya punya karya namun selalu saya bertanya, pantaskah ia menjadi buku?
Bambang Kariyawan bilang, "Pantas, bukukanlah dan mari memulai, kualitas biarlah menyusul kemudian".
Itulah yang hendak saya katakan kepada Marliana Triastuti dalam buku ini. Terbitkan bukumu dengan semangat, bergembiralah, bersukacitalah.
Apa pun yang terjadi dengan karyamu di mata orang-orang, biarkan karya itu membereskan dirinya sendiri.
Jika karyamu gagap dan tidak bisa menjawab apatalagi menanggung segala tanya pembaca, berbicaralah sebagai penulis. Jujur dan rendah hati.
Adakah yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis kala bukunya terbit? Ada. Karena hidup bukan sebatas lingkaran kata. Namun saya harap ada nyala di hati Marliana ketika buku ini lahir. Nyala untuk membaca buku, bukan nyala untuk membakar buku.
Sukses ya say. Salam Tinta se-JIWA!

Muhammad Asqalani eNeSTe - Pendiri dan pembina Community Pena Terbang (COMPETER). Runner up Duta Baca Riau 2018.
Kepo? Googling aja, Guys.
Keren kak men ya ...Lop lop lop kak... mau dong di ajari bikin latar belakang sekeren ini kak
BalasHapusBoleh ambil latar dari mbah gugel, kak
HapusHmmm.. Semoga semangat Marliana tetap tumbuh dan sekalipun redup, akan mampu bersinar lagi.
BalasHapusSemangat, Mar! 🤗
HapusManteb ini.. siipp
BalasHapusJoss!
HapusJoss!
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusEmang nggak salah jadi mentor. Keren puooool hehehehe
BalasHapusThank you Boss 😀
HapusKeren Master
BalasHapusAku siswa tertua Kakak Asqa,semua teman sekelas baik dan aku bersemangat mengikuti karena puisi unik dan sulit
BalasHapus