Paling Ramai

Rabu, 26 Februari 2020

Puisi-puisi Rhiky Pranata


Dua Beranak


Pelepah kelapa berserak di halaman  kampung pesisir,
Kelapa masih tersangkut di ujung batang yang sudah gundul,
Dua beranak menjolok hendak dibuatkan santan,
Malam ini cukup nasi pulut saja jadi santapan.

Lautan masih pasang kerling,
Belum musim ikan,
Sebab konon ikan tengah merayakan kebersamaan,
Dua beranak menahan kenyang.

Pelita badai penerang malam,
Sayu-sayu membias,
Sebab lautan bergemuruh serta angin kencang masuk dipori-pori rumah papan,
Kaki penyangga rumah dihentam ombak yang datang serentak,
Dua beranak telentang memandang bumbung atap.

Esok hari akan jadi cerita,
Dua beranak berpisah mengejar cita,
Pelita badai masih tersangkut di dinding kayu,
Yang dirindu deru angin malam dan cerita pengantar tidur yang tak kunjung usai.

Dua beranak menunggu waktu bertemu,
Menyekat hari terbendung rindu,
Menyapa kisah yang telah berlalu,
Dua beranak kini saling menunggu,
Di antara badai, angin, ombak dan bumbung atap yang bersaksi.

19-02-20
Bandar Senapelan

Angin Barat


Terus menjadi beban mengingat kampung yang kini ditinggalkan,
Entah ada lagi atau tidak anak-anak berlari diujung pantai,
Menyemah kampung dengan doa dan dupa,
Serpihan api bertebar di ladang gelap.

Ini sudah masuk musim barat,
Anak-anak apa masih main di pelabuhan?,
Mengingat si Karim hanyut dibawa arus,
Tiga hari mencari jasad ditemukan diujung pulau.

Angin barat membawa derita dan duka,
Sampan ditambat di pohon kelapa hanyut entah kemana,
Pantai berubah suram,
Pohon bakau patah-patah busut-busut hancur.

Abrasi mengikis pulau kami,
Ombak menjadi lawan,
Setengah kampung hilang berubah menjadi lautan,
Tinggal menjadi beting lumpur bersisa rerumputan dan peradaban.



14-02-20
Buluh Cina

Sebelas

Ada cinta menyeruak sampai kedalam relung jiwa,
Arungi samudra dengan sampan setia,
Penggayung bermartabat,
Cinta bukan sekedar saja soal sepakat.

Sebelas bergandingan,
Kita harus sama menggenggam tangan,
Jangan simpan amarah dengan dendam,
Persoalan silam jangan jadi pedoman.

Kita seperti sebelas,
tegak lurus beriringan,
Tak pernah putus apalagi berpisah,
Kita seberangi waktu dan hari supaya menikmati kehidupan.

Sebelas kasih yang aku miliki,
Senyum terselubungi bengis disetiap manismu,
Jauhkan ego dekatkan doa,
Sampai Allah akan menjabah.

Doa
Doa
Doa
Doa

11-02-20


Tentang penulis:
Rhiky Pranata adalah M. Rhiky Pranata, kelahiran pulau Bengkalis 5 Mei 1993, Alumnus Seni Teater - Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).
Mengajar di SMA Negeri 7 Pekanbaru,  berkesenian di Sanggar Teater Matan.  Aktif di COMPETER  Pekanbaru dan belajar puisi di AIS.
IG: @mrhikypranata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar