Paling Ramai

Selasa, 18 Februari 2020

Puisi-puisi Mohamad Iskandar


Duka Zaman Ini

dan keasyikan zaman
menyeret kalbu ke jauh namaMu
Tuhan, kami pun lalai lalui mimpi-mimpi hambar dalam _kasunyatan_
nafsu dunia menjerat sampai ke dasar kalbu
nun jauh di arasyMu, deras doadoa para malaikat menyalakan cahaya di langit dan di bumi
menaburkan kasih sayang pada tiap makhluk

malam-malam laknat membawa berita kesialan dan bara jiwa
kidung para wali hampir dilupakan, bayang kerusakan merebut ruang kemakrifatan
di mana ajaran kedamaian?

O, _zaman edan yen ra edan ra keduman_ gusti, beri kami ketabahan diri

ketabahan menyuburkan iman di ladang-ladang kemunafikan

Pati, 23 Januari 2020

Jarak Rindu


di antara derap doa
dan keluasan nama tersirat
di pantai-pantai kotamu
jalan beraspal
serta rimbun daun-daun
kubaca tafsir mata, lengang menyalakan cahaya

di antara barisan batu-batu karang
camar-camar beterbangan
semilir angin dan barisan pohon kelapa
kutuliskan sajak rindu
rahasia suci melanggamkan senyummu

Demak, 14 Januari 2020


Melankolia Menganti

: Al

degup kenangan menyatu debur ombak yang pecah di pantai, ada lagulagu rindu mengalun antara kasihku dan kasihNya. Jarak yang pungkas menerjemahkan haru rasa, angin menyisir lembut pipi, linang _embun_ menyatu dengan bingkai alam

di pantai ini, kuukir makna dalam kehadiran
o, seratus kesunyian fajar, hinggap di atas cakrawala

batubatu bisu, merangkum denyut penghambaan ke padaMu, zikir lirihku khusuk melafadzkan getir haruku

di pantai ini, cahaya kenangan mengabadikan seluruhku padamu
           -saat 2012, hinggapi lembar 2020- surya memancar

jiwaku mendayu di jiwamu

Demak, 10 Januari 2020


Sebuah Rindu

sepi menjalar
di sulur-sulur jiwa
ketika senja dan malam
memburu haru ke inti ruh semesta tubuh

seberapa jarak katakata ke lembar usia?

O bulan
O cahaya
O bintang
O kesunyian
di mana tersimpan _trenyuh_ rasa?

getaran kalbu
lembut menyebut nama
dalam kuasaNya

sepi pun larut
di puncak rindu
Air mata ini-

Demak, 06 Januari 2010


Minggu Pagi

langit cerah sebuah hati sumringah, menanti koran di tangan lalu memerdekakan diri dalam gelembung sunyi, ia mencatatkan diri sebagai penyair yang haus ide dan malam ke malam menggauli katakata.
minggu pagi dimasukkan secangkir puisi, kopi hitam diseruput lalu hati steril dari bermacam duka kepahitan hidup.
O, penyair sampai ke jalan mana ia rangkum bara semangat sementara beras di _pendaringan_ tinggal segenggaman.

ia penyair yang sudi berpahit-pahit menggauli sunyi dan hidup, ia hidup dalam cahaya kedamaian serupa sufi menjelma _mahasepi_
suaranya jernih sampai jauh, jauh menembusi remang langit dan doa para jelata.

diseruputnya lagi kopi di cangkir
puisi di koran dibaca berulang-ulang
merdeka! eh hati terbebas dari hutang dan kenyataan.

merdeka!
minggu pagi teramat ceria.

Pandean, 02 Februari 2020

*Mahasepi : judul buku puisi DianSi


Kamar Pengantin

hening ruang, di dada sepasang pemabuk cinta
seluruh sunyi bercahaya di keremangan
doa-doa mengalun nun di relung

dua tubuh nyanyi-nyanyi di kegemilangan naskah diri
Tuhan yang suci

maka tumbuh juga segala awal dan akhir, di rahasia paling dendam
usah duka! usah duka!

lambungkan saja puja-puji
-sambil menggambar _cupang_ di pipi-

Pandean, 02 Februari 2020


Pohon untuk Bapak

di pekuburan itu
bapak tidur nyenyak sekali
menjalani takdir Illahi

kutanam pohon di atasnya
sebagai lambang cinta yang meneduhkan

Krasak, Januari 2020


Tentang penulis: 
Mohamad Iskandar, lahir di Demak , 08 Maret. Menulis beberapa genre puisi antara lain Puisi bebas, Haiku, Tanka, Sonian dan Haisi. Karyanya menghiasi puluhan antologi antara lain Sang Peneroka (2014), 60 kali Oktober (2018), Seribu Tanka Indonesia (2019), Seribu Sisi Dhini (2019), Aku Menuju-Mu (2019) dll. Diundang di berbagai acara sastra di dalam negeri antara lain Pertemuan Penyair Nusantara di Kudus Juni 2019. Bergiat di COMPETER Indonesia dan AIS . 
No Hp/Wa: 082328519750 
Fb: Mohamad Iskandar

2 komentar: