Duka Zaman Ini
dan keasyikan zamanmenyeret kalbu ke jauh namaMu
Tuhan, kami pun lalai lalui mimpi-mimpi hambar dalam _kasunyatan_
nafsu dunia menjerat sampai ke dasar kalbu
nun jauh di arasyMu, deras doadoa para malaikat menyalakan cahaya di langit dan di bumi
menaburkan kasih sayang pada tiap makhluk
malam-malam laknat membawa berita kesialan dan bara jiwa
kidung para wali hampir dilupakan, bayang kerusakan merebut ruang kemakrifatan
di mana ajaran kedamaian?
O, _zaman edan yen ra edan ra keduman_ gusti, beri kami ketabahan diri
ketabahan menyuburkan iman di ladang-ladang kemunafikan
Pati, 23 Januari 2020
Jarak Rindu
di antara derap doa
dan keluasan nama tersirat
di pantai-pantai kotamu
jalan beraspal
serta rimbun daun-daun
kubaca tafsir mata, lengang menyalakan cahaya
di antara barisan batu-batu karang
camar-camar beterbangan
semilir angin dan barisan pohon kelapa
kutuliskan sajak rindu
rahasia suci melanggamkan senyummu
Demak, 14 Januari 2020
Melankolia Menganti
: Aldi pantai ini, kuukir makna dalam kehadiran
o, seratus kesunyian fajar, hinggap di atas cakrawala
batubatu bisu, merangkum denyut penghambaan ke padaMu, zikir lirihku khusuk melafadzkan getir haruku
di pantai ini, cahaya kenangan mengabadikan seluruhku padamu
-saat 2012, hinggapi lembar 2020- surya memancar
jiwaku mendayu di jiwamu
Demak, 10 Januari 2020
Sebuah Rindu
sepi menjalardi sulur-sulur jiwa
ketika senja dan malam
memburu haru ke inti ruh semesta tubuh
seberapa jarak katakata ke lembar usia?
O bulan
O cahaya
O bintang
O kesunyian
di mana tersimpan _trenyuh_ rasa?
getaran kalbu
lembut menyebut nama
dalam kuasaNya
sepi pun larut
di puncak rindu
Air mata ini-
Demak, 06 Januari 2010
Minggu Pagi
langit cerah sebuah hati sumringah, menanti koran di tangan lalu memerdekakan diri dalam gelembung sunyi, ia mencatatkan diri sebagai penyair yang haus ide dan malam ke malam menggauli katakata.minggu pagi dimasukkan secangkir puisi, kopi hitam diseruput lalu hati steril dari bermacam duka kepahitan hidup.
O, penyair sampai ke jalan mana ia rangkum bara semangat sementara beras di _pendaringan_ tinggal segenggaman.
ia penyair yang sudi berpahit-pahit menggauli sunyi dan hidup, ia hidup dalam cahaya kedamaian serupa sufi menjelma _mahasepi_
suaranya jernih sampai jauh, jauh menembusi remang langit dan doa para jelata.
diseruputnya lagi kopi di cangkir
puisi di koran dibaca berulang-ulang
merdeka! eh hati terbebas dari hutang dan kenyataan.
merdeka!
minggu pagi teramat ceria.
Pandean, 02 Februari 2020
*Mahasepi : judul buku puisi DianSi
Kamar Pengantin
hening ruang, di dada sepasang pemabuk cintaseluruh sunyi bercahaya di keremangan
doa-doa mengalun nun di relung
dua tubuh nyanyi-nyanyi di kegemilangan naskah diri
Tuhan yang suci
maka tumbuh juga segala awal dan akhir, di rahasia paling dendam
usah duka! usah duka!
lambungkan saja puja-puji
-sambil menggambar _cupang_ di pipi-
Pandean, 02 Februari 2020
Pohon untuk Bapak
di pekuburan itubapak tidur nyenyak sekali
menjalani takdir Illahi
kutanam pohon di atasnya
sebagai lambang cinta yang meneduhkan
Krasak, Januari 2020
Tentang penulis:
Mohamad Iskandar, lahir di Demak , 08 Maret. Menulis beberapa genre puisi antara lain Puisi bebas, Haiku, Tanka, Sonian dan Haisi. Karyanya menghiasi puluhan antologi antara lain Sang Peneroka (2014), 60 kali Oktober (2018), Seribu Tanka Indonesia (2019), Seribu Sisi Dhini (2019), Aku Menuju-Mu (2019) dll. Diundang di berbagai acara sastra di dalam negeri antara lain Pertemuan Penyair Nusantara di Kudus Juni 2019. Bergiat di COMPETER Indonesia dan AIS .
No Hp/Wa: 082328519750
Fb: Mohamad Iskandar


Pohon untuk bapak...bikin kangen bapak
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus